TERPANA

Sekitarku sejenak terdiam,
seluruh gerak terhenti mematung.
Denyut terhenti menangkap isyarat mata yang terpana.
Silau sinar meredup pada aura terpencar dari ayu wajahnya.
Luluh segala amarah,
ciut garang nyaliku.
 
Manis,
Cantik.
 
Bagaimana pancainderaku tuk menilai
apa yang tak bisa kugambarkan ?
Sangat indah,
Sangat mempesona,
Sekitarku tak lagi terdiam,
saat mulut dan lidahku kelu,
tak bisa berucap sekedar menyapa

KETULUSAN

Banyak rupa kan teringat,
banyak senyum kan terkenang,
banyak nama kan tersimpan.
Banyak cerita cinta yang pernah hadir.

Tapi akan ada satu yang tak sebatas tuk dikenang,
karena pada saatnya tiba,
rupa, senyum, nama dan cinta itu akan menjadi bagian dalam hidup.
Karena yakinku Tuhan menjadikan wanita pendamping hanya dari satu tulang rusuk.

Meski ragu kadang hadir, kuanggap menguji kedewasaanku.
Karena inginku, tak pernah salah memilih tempat hati tuk berlabuh.

 

MASA TERBALIK

Bukan tak tahu,
Sungguh mereka ahli di bidangnya.
Begitulah yang tertulis dibelakang nama mereka.
Tetapi semusim yang lalu, mereka terlihat bodoh.
Melebihi mereka yang tak sekedar awam.

Bukan tak mengerti,
meski mereka bukan ahlinya.
Karena nama didepan mereka masih bisa diperdebatkan.
Tetapi setidaknya mereka jauh lebih tahu, mestinya.
Namun pada satu titik mereka berdiri dan berbicara
bak kepribadian yang bertolak belakang.
Keilmuan tiba-tiba mundur beribu langkah jauhnya.

Bukan juga tak melihat,
Bukan juga tak mendengar,
Bukan juga tak merasa.
Hanya pada masa itu mulut berkata-kata bukan atasnya.

Pada ketika itu iya bisa menjadi tidak, sebaliknya.
Benar bisa dipersalahkan dan salah juga dibenarkan.
Kebenaran tak lagi hakiki, suara banyaklah jawabnya.
Para pembohong, pembual atas kebenaran tiba-tiba menjamur tanpa merasa malu pada akhirnya.

Masa itu masa kelam demokrasi yang terhempas.